Senin, 28 Januari 2008

HIPERAKTIF

oleh Agung Kurniawan,M.Psi

Memasuki abad 20 dengan
kemajuan tekologi dan ilmu pengetahuan, berdampak membawa keuntungan bagi umat manusia. Akan tetapi juga bermunculan kasus-kasus penyakit dimana sebelumnya tidak pernah atau jarang muncul. Kasus gangguan hiperaktif pada anak juga merupakan salah satu gangguan yang paling banyak muncul di abad ini. Banyak factor yang dapat menjadi factor pengaruh munculnya kasus hiperaktif, apakah itu lingkungan fisik maupun pola asuh orang tua yang semakin sibuk dalam pekerjaan. Gejala hiperaktif sebenarnya mirip dengan anak yang super aktif akibat kepenuhan gizi dan kelebihan energi. Perbedaan yang menyolok adalah, pada anak hiperaktif gerakan aktifnya ditandai oleh aktifitas yang tidak bertujuan, terarah dan tidak sesuai dengan normalitas anak seusianya. Contoh : anak yang super aktif berlari-lari dengan teman-temannya sebagai wujud permainan, sedangkan anak hiperaktif berlari-lari kemana-mana sendiri tanpa tujuan. Penampakan lainnya dari anak hiperaktif adalah selalu gagal menyelesaikan tugas-tugas dan selalu berpindah-pindah tugas. Pendek kata hiperaktif adalah ketidakmampuan mengendalikan impuls-impuls gerakan dirinya. Tetapi anak-anak usia 2-3 tahun yang sangat aktif tidak dikategorikan gangguan hiperaktif karena pada umunya anak-anak usia tersebut memang sangat aktif, khususnya untuk anak-anak yang memiliki potensi intelektual tinggi dan sangat eksploratif, sering diomeli orang tua dan hidup dalam lingkungan yang terbuang.

Penyebab
Faktor penyebab gangguan hiperaktif antara lain adalah : disfungsi otak yang mengakibatkan gerakan-gerakan berlebihan yang tidak bertujuan, pengaruh lingkungan (racun di udara : CO2 dsb) serta benturan-benturan di kepala. Tapi sampai saat ini belum diketahui penyebab pasti dari munculnya gangguan hiperaktif pada anak. Kemudian yang perlu diketahui adalah langkah pencegahan munculnya perilaku hiperaktif pada anak. Ada beberapa langkah pencegahan yaitu sebagai berikut :
1. Menciptakan lingkungan yang sehat bagi anak
Beberapa studi dengan jelas menyatakan bahwa kondisi fisik dan mental dari kehamilan seorang ibu dapat mempengaruhi tingkat aktifitas dan daya konsentrasi dari si anak. Selama kehamilan, bermacam-macam penyakit, narkoba, dan stres yang berkepanjangan dapat menjadi penyebab munculnya perilaku hiperaktif pada anak-anak. Nutrisi yang baik dan menghindari narkoba atau rokok adalah jaminan terbaik dari suatu lingkungan kehamilan yang normal. Hasil studi menyatakan bahwa terdapat hubungan antara hiperaktif dan pemakaian obat-obatnya yang berlebihan, bahkan juga menyebabkan munculnya gangguan impulsif dan kekacaun pikiran pada anak. Selain itu, omelan yang berlebihan pada masa kanak-kanak juga dapat mengakbiatkan munculnya gangguan hiperaktif.

2. Mengajarkan perilaku atau aktifitas yang memiliki tujuan.
Sejak masa bayi, perhatian dan penghargaan/pujian untuk beberapa pencapaian yang dilakukan oleh anak dapat menguatkan perilaku yang efektif. Hal yang sama juga, orang tua atau saudara kandung, merupakan contoh dalam kemampuan untuk memusatkan perhatian pada tugas dan menyelesaikan tugas-tugas tersebut. Sepanjang kehidupan anak, orang tua berperan menjadi model yang ditiru oleh anak-anak mereka. Dengan demikian orang tua dapat memberikan contoh perilaku yang memiliki tujuan atau maksud.

Apa yang harus dilakukan
Jika memiliki seorang anak yang memiliki gangguan hiperaktif, maka beberapa cara dapat dilakukan untuk meminimalkan perilaku hiperaktif pada anak, yaitu :
1. Memberikan tanggapan verbal tentang perilaku yang sesuai
Pujian dan penghargaan merupankan unsur yang penting dalam mengurangi perilaku hiperaktif. Orang tua perlu memberikan pujian untuk pencapaian suatu perilaku yang dicapai oleh anak hiperaktif. Misalnya : ketika si anak dapat tetap konsentrasi atau fokus pada tugas dan berhasil menyelasikan tugasnya, maka orang tua perlu memberikan pujian seperti : „ betapa luarbiasanya kamu dapat tetap duduk dan menyelesaikan tugas itu „ Orang tua dapat juga mengarahkan si anak untuk melakukan suatu tugas dan mencoba menyuruh anak melakukannya dengan cara yang baik, misalnya : kamu akan menjadi anak yang hebat jika kamu berhasil menyelesaikan tugas tersebut.” Selain itu, orang tua juga dapat memberikan contoh terlebih dahulu bagaimana menyelesaikan suatu tugas kemudian mendampingi si anak dengan cara memberikan perintah sebagaimana tersebut di atas. Jika si anak berhasil menyelsaikan, berikan pujian positif pada si anak, demikian seterusnya.

2. Cara kontrak
Cara kontrak adalah suatu perjanjian antara si anak dengan orang tua, dimana si anak diminta berkomitmen untuk melakukan suatu tugas, dan orang tua berkomitmen untuk memberikan hadiah positif yang disukai si anak. Si anak diminta memberikan laporan kepada orang tua mengenai tugas-tugas yang berhasil dilakukan. Hadiah yang diberikan seharusnya sesuai dengan keberhasilan si anak melakukan beberapa tugas yang diberikan. Misalnya : jika si anak berhasil tetap duduk tenang ketika makan tujuh hari berturut-turut maka si anak akan diberi hadiah sesuai kontrak. Namun jika si anak hanya berhasil melakukan selama empat hari saja, maka si anak hanya memperoleh setengah dari hadiah yang dijanjikan.

3. Mengajarkan mengontrol gerakan yang berlebihan
Si anak diajarkan suatu cara untuk menghentikan gerakan hiperaktifnya. Misalnya : jika si anak mulai ingin berlari-lari padahal tugasnya belum selesai, si anak diajarkan untuk bergerak beberapa menit dengan toleransi waktu tertentu atau membiarkan dirinya berlari hanya 2 menit saja untuk memuaskan gerakan hiperaktifnya, kemudian di minta kembali lagi menyelesaikan tugasnya demikian seterusnya jika keinginan untuk bergerak tersebut mulai muncul kembali. Tujuannya adalah menginterupsi gerakan beberapa menit saja.
(*Penulis adalah Staf Departemen Konseling dan Konselor Perkantas Jatim)

Menjadi Garam dan Terang bagi Kalangan terdekat

Judul : Menjadi Garam & Terang bagi Kalangan Terdekat
Pengarang : Jim Peterson & Mike Shamy
Penerbit Lokal : Pionir Jaya & Navigator Press
Halaman : 327 halaman
Ukuran : 14 X 20 cm

Oleh Fenti Eka Maris

Semakin dekat Anda dengan
Kristus, semakin besarlah kerinduan Anda untuk melihat orang-orang terdekat Anda — khususnya anggota keluarga Anda — memiliki keselamatan seperti yang Anda terima dari Allah. Tetapi sering keinginan ini diikuti dengan kekecewaan. Kadang-kadang tampaknya tidak ada harapan. Kita tidak mengerti bagaimana harus memulainya.
Dengan alasan tersebut, buku ini hadir untuk menolong orang-orang percaya mewujudkan kerinduannya. Berbeda dengan buku-buku tentang penginjilan yang pernah ada, buku ini menggunakan pendekatan dari kalangan dalam, sebagaimana tersurat dalam judul aslinya, “The Insider”.
Buku ini terdiri dari empat bagian. Bagian pertama menggali dasar-dasar Alkitabiah tentang rencana Allah melalui keberadaan para kalangan dalam. Di sini dijelaskan bahwa setiap orang percaya adalah warga Kerajaan Allah yang kekal, yang memuliakan Allah dengan cara hidupnya sebagai kalangan dalam, yakni dengan meneladankan nilai-nilai kebenaran yang sejati kepada masyarakat. Bagian ini bersifat filosofis, namun mudah dibaca karena sengaja ditulis dengan gaya yang singkat, karena ditujukan untuk para praktisi dan non-teologi.
Bagian pertama mungkin membosankan bagi mereka yang pragmatis. Untuk itu bisa langsung menuju bagian kedua, dimana dibahas ketakutan-ketakutan dan keterbatasan yang menjadi pergumulan kita sehari-hari dalam membagikan kebenaran tentang Kerajaan Allah kepada kalangan terdekat kita. Betapa menguatkan dan memotivasi ketika mengetahui kecemasan yang kita alami juga muncul pada hampir setiap pribadi, namun justru di sanalah Tuhan sendiri selalu menguatkan kita melalui kehadiranNya.
Realita-realita pribadi dan keluarga disajikan dengan apik oleh penulis, untuk menunjukkan kehidupan para kalangan dalam. Contohnya ketika Jim menulis bahwa saat orang-orang mempercayai Kristus, adalah saat yang sama dimana orang-orang terdekatnya melihat mereka untuk terakhir kalinya. Artinya, mereka memilih untuk hidup radikal dengan meninggalkan kehidupan lama dan keluarganya, namun sesungguhnya mereka mengorbankan salah satu aset terbaiknya, yakni posisi mereka yang terbaik di lapangan, kesempatan untuk memenangkan kalangan terdekatnya bagi Kristus. Menurut penulis, kalangan dalam adalah pemain kunci dalam rencana Allah mencari bangsa-bangsa.
Pola hidup seorang kalangan dalam yang berhasil dapat kita temukan dalam bagian yang ketiga. Ada 7 pola perilaku yang akan menjadi bagian dari gaya hidup seorang kalangan dalam, yakni (1) mengambil prakarsa-prakarsa kecil, (2) berdoa dan memberi tanggapan, (3) melayani dan dilayani, (4) membentuk tim, (5) mempercakapkan iman, (6) membiarkan Kitab Suci berbicara, dan (7) membidani kelahiran baru.
Konsep-konsep pemahaman, sharing pengalaman, dan tips-tips praktis yang diuraikan dalam pembahasan setiap pola perilaku. Bagian ini membawa kita lebih jauh ke dalam pemahaman tentang peran sebagai seorang kalangan dalam. Pada bagian yang terakhir, kita dibawa menyelidiki, apa saja yang harus dibayarkan, sebagai pribadi maupun sebagai gereja, untuk melaksanakan apa yang telah dibicarakan dalam bagian pertama, kedua, ketiga. Buku ini hanya akan menjadi sebuah omong kosong, jika tanpa praktek hidup para kalangan dalam yang membacanya. Untuk penerapan yang terarah dalam keseharian kita sebagai kalangan dalam, diperlukan latihan, usaha memperlengkapi diri, dan yang terpenting menyandarkan diri pada kekuatan Allah sendiri yang sedang membangun Kerajaan Allah melalui setiap kita. Selamat membaca!(*Penulis adalah Staf Kantor Perkantas Surabaya)

STAGNASI SEBUAH PERSEKUTUAN

STAGNASI SEBUAH PERSEKUTUAN
Bahaya dan Antisipasinya

oleh Anggriady Ricky,M.Div



Pendahuluan
Masa penyambutan mahasiswa
baru telah dilewati oleh seluruh persekutuan mahasiswa. Kamp demi kamp berlangsung tanpa terasa telah menghabiskan dana puluhan juta. Apa hasilnya? Sesaat lagi PMK-PMK siap menyambut Natal dengan membentuk kepanitiaan untuk persiapan perayaannya. Apakah persekutuan-persekutuan ini sungguh mempedulikan moment ini agar orang melihat kasih Allah yang besar? Setiap Jumat seperti biasa pengurus sibuk mempersiapkan ruang agar dapat melakukan ibadah. Apakah dikarenakan kerinduan agar banyak mahasiswa mendengar Firman ataukah kebiasaan yang diulang. Mungkin jika kita mau jujur seringkali kegiatan-kegiatan tersebut di atas bukan dikarenakan kesadaran akan sebuah makna, namun sering hanya menjadi sebuh tradisi yang telah dilakukan turun temurun oleh pengurus sebelumnya. Bahkan kegiatan tersebut terkesan monoton dan tidak hidup. Jumlah mahasiswa yang hadir dari tahun ke tahun bukannya bertambah, tetapi menurun. Mungkin inilah yang dinamakan Stagnasi sebuah pelayanan atau dengan kata lain persekutuan yang berjalan di tempat atau bahkan diam.

Seringkali PMK mengadakan kegiatan yang selalu sama setiap tahunnya bukan melalui pergumulan, namun lebih kepada melaksanakan sebuah warisan. Itu sebabnya kegiatan-kegiatan yang dilakukan kehilangan makna dan tidak mampu menjadi daya tarik bagi banyak orang. Ada banyak PMK sudah tidak mampu berkreasi atau lebih tepatnya mungkin tidak berani mengambil langkah pembaharuan sehingga sulit untuk dapat mengajak mahasiswa melihat kebenaran. PMK telah stagnasi dan tidak berkembang. Semua kegiatan ini bukannya tidak perlu dan tidak berguna. Sangat bermanfaat hanya persoalannya bagaimana pengurus menjalankan dan melakukannya? Bagaimana kegiatan-kegiatan yang terkesan rutinitas ini mampu membawa orang kepada kebenaran? Bukan karena pelayanan itu sudah stagnan sehingga dikerjakan saja yang seperti biasa.

Dalam hal ini Pengurus PMK perlu melihat bahayanya persekutuan yang stagnan. Persekutuan tersebut hanya menghabiskan energi, dana dan waktu tanpa dapat mengubah kehidupan mahasiswa-mahasiswa yang menghadiri kegiatan tersebut. Persekutuan yang stagnan hanya akan menjadi penyebab timbulnya konflik dan kejenuhan sebuah pelayanan. Ketika semua orang berlomba untuk memberi pengaruh, PMK yang stagnan hanya berdiam diri menanti seolah-olah siap ditiadakan. PMK seperti ini tidak mungkin dapat bertahan di tengah-tengah tantangan dan pergumulan yang semakin berat. Ketika dunia mencari jati dirinya, PMK yang seharusnya memberi nilai ternyata hanya tidur. Ketika setiap mahasiswa mencari kebenaran, PMK yang seharusnya menarik mahasiswa ini hanya berdiam diri. Visi itu telah pudar disebabkan tidak bergeraknya PMK.

Kondisi seperti ini tidak bisa didiamkan. PMK harus segera mengevaluasi dan berbenah diri dengan memberi nilai dan makna kembali kepada setiap kegiatan yang dilakukan. PMK harus berusaha berkreasi sehingga mampu menjadi pilihan bagi banyak mahasiswa. Bagaimana caranya? Bergerak dan bentangkan sayap untuk menjadi yang terdepan.


Faktor Penyebab Stagnasi
Untuk bergerak dan berkembang
PMK perlu menemukan dulu penyebab dari keadaan yang terjadi yang menyebabkan kondisi stagnasi. Hal pertama yang mungkin menjadi penyebab dari keadaan stagnasi ini berbicara mengenai sebuah rutinitas tanpa pemahaman yang jelas. Seringkali ketika serah terima jabatan ke pengurus yang baru otomatis program lama juga diserah terimakan untuk dijalankan. Hal ini yang dapat menjadi penyebab sebuah rutinitas tanpa makna karena pengurus hanya menjalankan aktivitas tanpa menggumulinya sendiri dan mencari pimpinan Tuhan. Mengerjakannyapun jelas sebagai sebuah tanggung jawab bukan beban dari dalam hati. Akhirnya persekutuan yang dilakukan menjadi salah satu kegiatan yang membuat orang semakin sibuk tanpa mengalami perubahan hidup.

Sebenarnya kegiatan-kegiatan tersebut dapat saja dihilangkan jika dianggap sudah tidak efektif lagi atau sudah tidak “kontekstual” lagi. Pengurus perlu menggumuli apa yang harus dikerjakan sesuai dengan konteks jamannya. Mencari pimpinan Tuhan untuk mengerjakan program menjadikan program tersebut hidup dan bermakna. Meskipun mungkin kegiatan tersebut terkesan rutinitas, tetapi sebuah rutinitas yang hidup dan dihidupi.

Hal kedua yang perlu disorot berkaitan dengan persekutuan yang stagnan adalah spiritualitas pelayan Tuhan itu sendiri. Penyebab terbesar dari kemerosotan sebuah persekutuan dikarenakan kehidupan rohani dari pengurus yang tidak beres dihadapan Tuhan. Ketiadaan disiplin yang ketat, hilangnya kesungguhan bergumul dihadapan Tuhan sering diabaikan. Penyelesaian masalah difakuskan pada aktivitasnya bukan pribadi-pribadinya. Akhirnya masalah tidak pernah berhenti dan menjadi penyebab keengganan untuk melayani yang berdampak pada persekutuannya.

Persekutuan yang hidup bergantung pada bagaimana setiap pengurus menjalani kehidupan rohaninya dihadapan Tuhan. Pengurus yang memiliki spiritualitas yang baik akan memberi pengaruh bagi berkembangnya sebuah persekutuan. Pengurus seharusnya menjadi kompas atau penunjuk arah bagi anggota-anggotanya. Bagaimana mungkin mahasiswa tertarik untuk mengikuti gerakan yang dilakukan persekutuan jika pengurusnya menjadi penunjuk arah yang salah (kompas yang rusak). Jadi jelas setiap pengurus bertanggung jawab kepada Tuhan untuk memajukan pelayanannya dengan cara memiliki kehidupan spiritualitas yang baik.

Hal ketiga yang perlu diperhatikan adalah program tanpa arah. Sejalan dengan hal pertama, program-program warisan seringkali dikerjakan tanpa melihat maksud dan tujuannya apakah masih sesuai dan memang dibutuhkan pada konteks jaman yang ada. Apalagi pengurus yang mengerjakan tidak pernah tahu mengapa program tersebut harus hadir dan apa yang menjadi alasan sehingga masih dipertahankan. Hal ini membut program menjadi tanpa arah, sulit untuk dievaluasi apalagi untuk ditindaklanjuti.

Untuk menghindari semakin berkembangnya keadaan yang stagnan menjadi keadaan yang mati, maka program-program yang dibuat harus segera dievaluasi kembali dan digumuli dihadapan Tuhan. Arah dan sasaran harus jelas, sehingga mudah untuk ditindaklanjuti. Dengan demikian hasil yang diharapkan dapat dirasakan. Semua daya dan upaya menjadi tidak sia-sia.

Keempat adalah visi yang semakin memudar. Berjalan tanpa visi akan membuat liar sebuah persekutuan. Berjalan dengan visi yang tidak jelas membuat kebingungan sebuah persekutuan. Berjalan dengan visi yang semakin memudar dapat membuat persekutuan salah arah atau berhenti ditempat. Visi jelas menjadi penentu arah dan semangat dari sebuah pelayanan. Tanpa visi yang jelas, maka perlayanan akan sekadar menjalankan aktivitas. Demikian pula jika visi itu memudar, maka persekutuan akan menjadi aktivitas tanpa makna. Hal inilah yang menyebabkan stagnya sebuah pelayanan.

Kehadiran setiap mahasiswa di dalam sebuah acara persekutuan hanya menambah kegiatan saja, sebab persekutuan tersebut telah kehilangan arah. Akhirnya keengganan dan kemalasan merajalela di dalam diri mahasiswa untuk menghadiri dan menghidupi persekutuan tersebut. Pengurus perlu memperhatikan visinya. Visi itu harus hidup dan mendarah daging, sehingga pelayananpun dikerjakan dengan penuh sukacita. Dampak ini akan dirasa oleh mahasiswa lain. Pengaruhnya akan meluas kesegala arah.

Kelima, usaha tanpa kerja keras memberi pengaruh pada hasil yang diharapkan. Jika setiap pelayan Tuhan hanya sekadar ikut-ikutan tanpa mau berkorban untuk mengerjakan pelayanan, maka pelayanan tersebut tidak akan maksimal dan tidak memiliki dampak luas. Pengurus yang tidak mau membayar harga dari sebuah pelayanan dapat mematikan pelayanan tersebut. Mungkin awalnya semangat karena sungkanisme sudah ditunjuk jadi pengurus, atau semangat karena ada motivasi tertentu dibalik kedok pelayanannya, namun akhirnya tidak akan dapat bertahan lama karena pelayanan menuntut kerja keras dan harga.

Pelayanan akan berkembang jika setiap pengurus mau melakukan usaha dengan kerja keras. Kondisi yang mungkin penuh dengan pergumulan akan terus di perjuangkan untuk hasil yang maksimal. Pengurus yang demikian akan memberi pengaruh pada orang-orang yang dilayaninya dan dapat terus mengembangkan persekutuan yang dilakukan.

Memulihkan Kondisi yang Stagnan
Kondisi tidak berkembangnya
sebuah pelayanan harus segera diantisipasi dan ditangani sehingga tidak menjadi berlarut-larut. Kondisi semacam ini menyebabkan banyak hal yang dikorbankan tanpa dapat dinikmati hasilnya. Mengatasi kondisi semacam ini tidaklah mudah perlu pengurus yang rela memberi waktu untuk berpikir dan mengerjakan dengan sungguh-sungguh. Tanpa kesungguhhan memikirkan pelayanan yang dilakukan tidak akan maksimal, keadaan akan tetap sama. Jadi alangkah baiknya jikalau setiap pengurus mencari hikmat Tuhan.

Selain itu tidak bisa tidak kreatifitas dan inovatif perlu dikembangkan. Ditengah kemajuan dan perkembangan teknologi jaman ini orang sudah tergoda untuk mencari sesuatu yang dapat menghibur dan menyenangkan mereka. Mahasiswapun berusaha mencari sesuatu yang selalu baru dan inovatif untuk dapat dinikmati. Meskipun kehadiran PMK bukan untuk menyenangkan hati manusia, namun tidak ada salahnya jika melakukan terobosan yang kreatif dan inovatif untuk dapat menjadi salah satu pilihan dari banyaknya pilihan yang menggoda mahasiswa. Kemajuan teknologi harus dimanfaatkan untuk mengembangkan pelayanan yang ada.

Namun jangan terjebak dengan persaingan dan kontektualitas, tetap saja nilai dan esensi kehadiran sebuah persekutuan berbeda dengan yang ada di dalam dunia ini. Esensi inilah yang tetap harus dipertahankan dan diperjuangkan. Kebenaran yang ada didalamnya tidak boleh pudar oleh kemajuan jaman. Teknologi dimanfaatkan agar semakin banyak mahasiswa yang mengenal kebenaran sejati.

Mungkin tidak mudah untuk menciptakan persekutuan yang ideal semacam ini. Kadangkala dalam satu jaman pelayanan tersebut sudah baik, namun jaman berikutnya ketika kepengurusan berganti, berganti pula kondisinya. Karena itu persiapkanlah kader yang tepat dengan waktu yang tepat agar kontinuitas pelayanan dapat terjaga dan bahkan berkembang. Jangan melupakan tanggung jawab lain yaitu menyerahkan pelayanan kepada orang yang dapat dipercaya.


Penutup
Generasi silih berganti.
Pernguruspun silih berganti. Kondisi ini tidak mungkin dihindari, tetapi dapat diantisipasi agar pelayanan terus berjalan. Menyadari hal ini doa dan keteladanan menjadi penting bagi generasi selanjutnya agar mereka boleh memiliki kekuatan dan dapat melihat contoh orang-orang yang telah memberikan diri untuk pekerjaan Tuhan. Tidak lupa pula pendampingan yang terus menerus diperlukan oleh tiap-tiap generasi agar visi tetap terjaga dan terpelihara. Terlepas dari semua ini, keberserahan kepada sang empunya pelayanan menjadi modal dasar di dalam mengerjakan sebuah pelayanan.

Tidak Sekedar Bicara

oleh Chandra Putra A

Pendahuluan
Ada yang bilang kalau tindakan
itu lebih berbicara daripada kata-kata. Seorang Ayah tidak bisa hanya menasehati anaknya untuk tidak merokok dan berbicara kotor, sementara dirinya masih merokok dan berbicara kotor. Siswa, meskipun remaja dia adalah bagian dari kaum akademisi yang mempunyai jiwa ilmiah yaitu kritis, rasa ingin tahu dan membutuhkan bukti.
Dia tidak mudah menerima sesuatu begitu saja tanpa membandingkan dan mempertanyakannya. Suatu misal ketika kita mengatakan dan mengajarkan bahwa Allah itu baik, dia belum tentu serta merta menerimanya begitu saja. Salah satu pengalaman penulis ketika memimpin KTB SMP pada pertemuan pertama adalah munculnya pertanyaan yang membutuhkan jawaban yang cukup rumit dalam sistematika Teologia:
Siswa : Kak Allah itu baik ya?
Saya : Oh tentu, Allah itu tidak hanya baik, tetapi DIA Maha Baik.
Siswa : Kak, kalau Allah baik kenapa ada neraka?.
Pada kesempatan lainnya sewaktu penulis berkesempatan untuk mengunjungi salah satu siswa untuk “SOS”, dia langsung menanggapi pertanyaan diagnostik penulis yang kedua dengan argumentasi begini;
Siswa : Kak saya tidak percaya dengan Tuhan, kalau Tuhan itu ada tolong buktikan pada saya bahwa Tuhan itu ada sekarang. Kak menurut pengetahuan saya banyak orang dan ada negara yang tidak percaya Tuhanpun bisa hidup lebih makmur dari pada orang dan negara yang percaya Tuhan.

Transisi
Betapa kritisnya siswa sekarang
yang tidak hanya serta merta menerima begitu saja peryataan dan pertanyaan dari kita. Dari pengalaman diatas, memang untuk berbicara bahwa Allah itu Baik membutuhkan argumen sistematika blibical yang mengena pada siswa. Tetapi argumentasi manis yang mendalam dan ekspresif belum cukup membuat siswa “lengket” percaya kepada kita, jika hidup kita sebagai seorang pelayanan siswa tidak mampu membuktikan bahwa Allah itu baik dan Allah itu ada melalui hidup kita yang kita nyatakan kepada para siswa. Intinya siswa harus mengenal bahwa Tuhan itu Baik dan ada selain dari argumentasi tetapi juga melalui kebaikan hidup kita kepadanya secara nyata sebagai orang yang telah percaya kebaikan dan keberadaan Tuhan.

Lintas Realitas Siswa
Pemaparan berikut ini memang
belum mewakili kondisi seluruh siswa di jagad raya ini, tetapi merupakan wacana penggambaran yang sedang terjadi di antara para siswa, antara lain:

1. Kebutuhan Kasih Yang Besar
Sebuah kisah yang penulis kutip dari buku “Ayah aku ingin bicara” menceritakan di antara jajaran iklan terselip sebuah iklan yang berbunyi “Paco, segalanya telah dimaafkan, pulanglah. Ayah akan menjemputmu di tangga kantor surat kabar ini pada Senin pukul 16.00. Ayah sayang padamu”.
Ketika hari Senin pukul 16.00 sang ayah tiba di tangga kantor surat kabar itu, tetapi yang didapati bukanlah anaknya, tetapi lautan wajah yang mencari-cari. Ada sekitar 200 Pemuda bernama Paco yang muncul dan masing-masing berharap ayah merekalah yang menulis iklan tersebut dan mengungkapkan rasa cintanya.
Mungkin perlu diadakan penelitian diantara sekolah dan siswa yang kita layani berapa persen dari mereka yang sudah merasakan kasih sayang orang tua (kuantitatif) dan seberapa dalam kasih yang mereka rasakan atau terima (kualitatif).

2. Degradasi Moral
Dalam buku “Ayah aku ingin bicara” terdapat kisah seorang remaja berusia 15 tahun menyatakan bahwa semua anak seumurnya menyebut seks dengan isilah ML (making love).” Seks itu sesederhana berkencan,” kata remaja laki-laki itu.” Ada semacam harapan bahwa kamu bisa ML dengan seseorang jika kamu teah pergi ke luar sekali atau dia kali dengannya.
Dalam Kisah nyata salah satu AKK penulis mensharingkan bahwa salah satu temannya laki-laki di SMP yang berbadan besar berkali-kali menginvasinya dengan sebuah ajakan untuk melakukan “gitu-gituan”, yang setelah ditelusuri temannya tersebut adalah penikmat Blue Film.

3. Kebobrokan Standar dan nilai
Dalam KTB kesucian dan kekudusan adalah harga mati dan itu yang kita ajarkan kepada para AKK kita, tetapi apa yang menjadi suara teman dan dunia sekarang, semoga percakapan ini membukakan seklumit apa yang sedang terjadi sekarang:
AKK : Kak, kalau kita ikut KTB apa tidak boleh pacaran?
PKK : Oh, boleh sekali, tetapi pada saat yang tepat, karena pacaran orientasinya adalah pernikahan bukan untuk main-main dan coba-coba,, Jadi kalau seusia adik-adik yang masih SMP berteman dan bersahabat saja itu lebih baik dan benar.
AKK : Kak, tetapi kata temanku kalau kita tidak pacaran itu nggak keren, sedangkan kalau pacaran nggak pakai ciuman, raba-raba, dan buka-bukaan dan berhubungan yang hampir kaya orang yang sudah menikah itu pacarannya anak kecil.
PKK : Weleh-weleh, mari kita lihat apa kata Firman Tuhan dan mari kita mentaatinya.

4. “Chauvinisme” Gank
Di salah satu kota yang penulis layani, ada kelompok gank siswa yang cukup “new’s”, dimana gank ini tidak terdiri dari anak-anak berandalan yang biasanya suka ngompas siswa-siswa lainnya, tetapi gank ini ada dan berdiri berdasarkan penampilan fisik. Gank ini di salah satu kota yang penulis layani memproklamasikan diri dengan nama KCK ( Kumpulan Cowok dan Cewek Keren), dimana para anggotanya hanya diperuntukkan bagi para siswa yang cakep dan berpenampilan keren saja, sedangkan untuk siswa yang tidak masuk “standart “ cakep dan keren menurut mereka maka berlakulah “Uang Gopek buat beli Teh-Capek Deh”.
Beberapa sharing dari para siswa ada teman mereka yang “ngebet” banget untuk bisa menjadi anggota KCK tersebut.

5. Broken Home
Pernikahan yang tidak langgeng dan tidak bertahan yang membuahkan perceraian sudah bukan perihal yang “unik” di kehidupan para siswa. Pernah suatu kali penulis melayani sebuah kelompok PA siswa, dimana 80%-90% anggotanya berasal dari keluarga yang broken home. Melayani siswa dengan latar belakang keluarga seperti ini membutuhkan perhatian, kasih, tenaga dan lain-lainnya secara ekstra.

Tindakan Nyata
Melihat kehidupan para siswa
yang sempat membuat penulis “lemas” karena tidak habis mengerti, cukupkah pengetahuan dan sistematika yang kita miliki menjawab tantangan siswa jaman sekarang?. Tidak sekedar bicara hal-hal yang dalam dan luas dalam pengetahuan mungkin itu salah satu cara menjawab tantangan ini, tetapi pikiran dan hati kasih yang terejawantahkan secara nyata melalui pengurbanan kita itulah wujud kita meluruskan jaman yang bengkok ini. Para siswa tidak hanya butuh argumentasi tetapi juga bukti terkini bukan kisah-kisah di waktu lalu
Meja makan, ikut ambil bagian membayar sekolah yang kesulitan, kado khusus setiap ulang tahun, sms dan telfon kita sebagai wujud perhatian, pulsa untuk mendukung mereka yang menjadi aktivis pelayanan, waktu kita, perasaan dan pikiran kita dan akhirnya semua bagian dari hidup kita harus kita bagikan bersama-sama dengan pengajaran yang kita berikan, sehingga kita tidak hanya sekedar bicara.
Seperti Tuhan Yesus yang tidak hanya mengajar tetapi juga memberi “makan” orang yang mendengar pengajaran-Nya mari kita melakukannya.
Segala Kemuliaan Hanya Bagi Allah Tritunggal.

(*Penulis adalah Ass. Staf Siswa Perkantas Kediri)

NINIWE HARI INI

NINIWE HARI INI


Dunia pasca modern itu sebuah samudera dunia
Namun manusianya bermain-main di kedangkalan saja.
Tahu banyak hal, sedikit kesalehan
Jenius bak Tuhan, liar bak binatang
Makin biadab di panggung peradaban
Baik di kota kecil maupun di kota besar!

Dengan apa dilawan ???
Pembaharuan budi yang radikal
Reinstalling, re-programming batin dan nalar
Alami kebangunan pribadi, buat komitmen personal,
retas kekudusan komunal, karyakan kesalehan sosial.

Di mana modal kekuatan??? Doa dan Firman !
Dalam hening, tinggalkan bising, menyelam,
tenggelamkan diri di kedalaman
temukan dan peragakan kebenaran secara total !

Mulai dari mana kawan??
Hati yang peduli, berbagi, bermisi;
Hatimu, hatiku, hati kita
Bagi Niniwe-Niniwe kita hari ini:
Sekolahku, kampusmu, kantorku, gerejamu
Kota kita, negri kita !

Yunus 4:11 Bagaimana tidak Aku akan sayang kepada Niniwe, kota yang besar itu, yang berpenduduk lebih dari seratus dua puluh ribu orang, yang semuanya tak tahu membedakan tangan kanan dari tangan kiri, dengan ternaknya yang banyak?”

Matius 24: 38-39 Sebab sebagaimana mereka pada zaman sebelum air bah itu makan dan minum, kawin dan mengawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, dan mereka tidak tahu akan sesuatu, sebelum air bah itu datang dan melenyapkan mereka semua, demikian pulalah halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia.


Malang, Nopember ‘07

HUT Alumni

HUT Alumni
Desember - Februari

Pudiawicaksono 8 Des
Khanis Yovani 12 Des
Desy Sanjaya P 13 Des
Anggoro 17 Des
Christela 20 Des
Dewi Kartolo 21 Des
Lindawati 22 Des
Maria Nonik 22 Des
Eva Nathalia 23 Des
Bowo M.H. 25 Des
Dwi Christine 26 Des
Prico C 26 Des
Lusye 27 Des
Yohana 23 Des
Yohanes H 28 Des
Senny Pelokila 28 Des
William R 28 Des
Sri Ulina 29 Des
Melania 30 Des
Didik Harijanto 30 Des
Merlin Chrisna 31 Des
Retno K 2 Januari
Sri Kristiana 9 Januari
Yuliani 8 Januari
Sonny 9 Januari
Umi Purnamasari 10 Januari
Nelly Widianti 18 Januari
Lukas Santoso G. 19 Januari
Sugiharto S 19 Januari
Dedy 23 Januari
Totok S. 23 Januari
Anggriady Ricky H 24 Januari
Markus S 28 Januari
Baron 1 Februari
Harto 1 Februari
Retno 2 Februari
Stanley Jeffry H 4 Februari
dr. Hotman 9 Februari
Daltur R 11 Februari
Hermawati 12 Februari
Paula 13 Februari
Martin 16 Februari
Yola 17 Februari
Ferawati 14 Februari
Budiarto David 14 Februari
Ucok/Iyud 14 Februari
Pius 17 Februari
Rurikasari 19 Februari
Andik Wijaya 23 Februari
Lili Kristanti 23 Februari
Segenap Keluarga Besar
Perkantas Regional Jawa Timur

mengucapkan

Selamat Hari Natal 2007

dan

Tahun Baru 2008



Yesaya 63:9 Maka dalam segala kesesakkannya itu iapun telah sesak dan malaikat dari pada hadirat-Nya telah menyelamatkan dia maka oleh kasih-Nya dan sayang-Nya juga ditebus-Nya akan dia serta didudukkan-Nya dan dipangku-Nya segala zaman dahulu.