Senin, 28 Januari 2008

Editorial

Dalam salah satu buku terbarunya, The Living Church (Inter-Varsity, 2007), John
Stott menyatakan bahwa Gereja lokal tidak cukup sekadar mengatur dirinya dan organisasinya. Salah satu ciri Gereja yang bertumbuh adalah Gereja yang memahami dan memaknai berita (message) yang harus disampaikannya kepada dunia: Injil (kabar baik).
Namun sayangnya, di tengah-tengah suasana dunia yang semakin dihimpit oleh filsafat pluralisme saat ini, konsep tentang Injil pun menjadi makin beragam. Dalam buku The Scandal of the Evangelical Conscience, Ron Sider mengatakan bahwa banyak orang Kristen yang melulu menafsirkan Injil sebagai pengampunan atas dosa-dosa; konsep berat sebelah yang membuat banyak orang Kristen terus-menerus berdosa dan tetap yakin bahwa dosa mereka diampuni. Fenomena lain juga menunjukkan bahwa banyak orang Kristen yang kecanduan dengan ide “surga,” platonik yang disukai kalangan dispensasionalis, tempat indah nun jauh di sana yang menyediakan berbagai fasilitas untuk kenyamanan anak-anak Tuhan yang hidup abadi, model Heaven is So Real dan berbagai cerita penglihatan surga yang ngawur, yang langsung mengasosiasikan Injil dengan surga, konsep tidak pernah ada dalam Alkitab. Tentu dengan tawaran “menggiurkan” seperti itu, orang-orang oportunis-egois yang hanya mau cari selamat dan untung untuk dirinya sendiri dengan serta-merta (tanpa pikir dua kali) akan langsung menerima Injil dengan “sukacita.”
Kalau begitu apa makna Injil yang sesungguhnya? Stott benar saat mengungkapkan bahwa Injil atau kabar baik itu adalah Yesus Kristus sendiri. Itulah sebabnya berulang-ulang penulis Perjanjian Baru mengaitkan Injil dengan Yesus Kristus (Mrk. 1:1; Kis. 8:12, 35; 11:20; 17:18; Rom. 1:1, 3; 6:25). Dan hanya Dialah juga yang diberitakan Paulus dengan segenap hati (1Kor. 2:2; 15:3-5). Kehadiran, karya, kematian dan kebangkitan-Nya adalah kabar baik bagi umat manusia sebab kini Allah ada di tengah-tengah manusia. Apa yang dulu dijanjikan kini digenapi. Ia yang dulunya dinantikan kini hadir. Air mata karena pengharapan akan Dia, akan dihapus diganti dengan sukacita karena Ia sungguh ada di tengah-tengah kita. Ia datang untuk merestorasi milik-Nya dan Ia datang agar mereka yang menjadi milik-Nya itu menerima kepenuhan dan kuasa untuk menjadi serupa dengan Dia dan menjadi saksi-saksi-Nya supaya dunia kepunyaan-Nya ini dipulihkan dan memuliakan Dia.