Senin, 28 Januari 2008

Tidak Sekedar Bicara

oleh Chandra Putra A

Pendahuluan
Ada yang bilang kalau tindakan
itu lebih berbicara daripada kata-kata. Seorang Ayah tidak bisa hanya menasehati anaknya untuk tidak merokok dan berbicara kotor, sementara dirinya masih merokok dan berbicara kotor. Siswa, meskipun remaja dia adalah bagian dari kaum akademisi yang mempunyai jiwa ilmiah yaitu kritis, rasa ingin tahu dan membutuhkan bukti.
Dia tidak mudah menerima sesuatu begitu saja tanpa membandingkan dan mempertanyakannya. Suatu misal ketika kita mengatakan dan mengajarkan bahwa Allah itu baik, dia belum tentu serta merta menerimanya begitu saja. Salah satu pengalaman penulis ketika memimpin KTB SMP pada pertemuan pertama adalah munculnya pertanyaan yang membutuhkan jawaban yang cukup rumit dalam sistematika Teologia:
Siswa : Kak Allah itu baik ya?
Saya : Oh tentu, Allah itu tidak hanya baik, tetapi DIA Maha Baik.
Siswa : Kak, kalau Allah baik kenapa ada neraka?.
Pada kesempatan lainnya sewaktu penulis berkesempatan untuk mengunjungi salah satu siswa untuk “SOS”, dia langsung menanggapi pertanyaan diagnostik penulis yang kedua dengan argumentasi begini;
Siswa : Kak saya tidak percaya dengan Tuhan, kalau Tuhan itu ada tolong buktikan pada saya bahwa Tuhan itu ada sekarang. Kak menurut pengetahuan saya banyak orang dan ada negara yang tidak percaya Tuhanpun bisa hidup lebih makmur dari pada orang dan negara yang percaya Tuhan.

Transisi
Betapa kritisnya siswa sekarang
yang tidak hanya serta merta menerima begitu saja peryataan dan pertanyaan dari kita. Dari pengalaman diatas, memang untuk berbicara bahwa Allah itu Baik membutuhkan argumen sistematika blibical yang mengena pada siswa. Tetapi argumentasi manis yang mendalam dan ekspresif belum cukup membuat siswa “lengket” percaya kepada kita, jika hidup kita sebagai seorang pelayanan siswa tidak mampu membuktikan bahwa Allah itu baik dan Allah itu ada melalui hidup kita yang kita nyatakan kepada para siswa. Intinya siswa harus mengenal bahwa Tuhan itu Baik dan ada selain dari argumentasi tetapi juga melalui kebaikan hidup kita kepadanya secara nyata sebagai orang yang telah percaya kebaikan dan keberadaan Tuhan.

Lintas Realitas Siswa
Pemaparan berikut ini memang
belum mewakili kondisi seluruh siswa di jagad raya ini, tetapi merupakan wacana penggambaran yang sedang terjadi di antara para siswa, antara lain:

1. Kebutuhan Kasih Yang Besar
Sebuah kisah yang penulis kutip dari buku “Ayah aku ingin bicara” menceritakan di antara jajaran iklan terselip sebuah iklan yang berbunyi “Paco, segalanya telah dimaafkan, pulanglah. Ayah akan menjemputmu di tangga kantor surat kabar ini pada Senin pukul 16.00. Ayah sayang padamu”.
Ketika hari Senin pukul 16.00 sang ayah tiba di tangga kantor surat kabar itu, tetapi yang didapati bukanlah anaknya, tetapi lautan wajah yang mencari-cari. Ada sekitar 200 Pemuda bernama Paco yang muncul dan masing-masing berharap ayah merekalah yang menulis iklan tersebut dan mengungkapkan rasa cintanya.
Mungkin perlu diadakan penelitian diantara sekolah dan siswa yang kita layani berapa persen dari mereka yang sudah merasakan kasih sayang orang tua (kuantitatif) dan seberapa dalam kasih yang mereka rasakan atau terima (kualitatif).

2. Degradasi Moral
Dalam buku “Ayah aku ingin bicara” terdapat kisah seorang remaja berusia 15 tahun menyatakan bahwa semua anak seumurnya menyebut seks dengan isilah ML (making love).” Seks itu sesederhana berkencan,” kata remaja laki-laki itu.” Ada semacam harapan bahwa kamu bisa ML dengan seseorang jika kamu teah pergi ke luar sekali atau dia kali dengannya.
Dalam Kisah nyata salah satu AKK penulis mensharingkan bahwa salah satu temannya laki-laki di SMP yang berbadan besar berkali-kali menginvasinya dengan sebuah ajakan untuk melakukan “gitu-gituan”, yang setelah ditelusuri temannya tersebut adalah penikmat Blue Film.

3. Kebobrokan Standar dan nilai
Dalam KTB kesucian dan kekudusan adalah harga mati dan itu yang kita ajarkan kepada para AKK kita, tetapi apa yang menjadi suara teman dan dunia sekarang, semoga percakapan ini membukakan seklumit apa yang sedang terjadi sekarang:
AKK : Kak, kalau kita ikut KTB apa tidak boleh pacaran?
PKK : Oh, boleh sekali, tetapi pada saat yang tepat, karena pacaran orientasinya adalah pernikahan bukan untuk main-main dan coba-coba,, Jadi kalau seusia adik-adik yang masih SMP berteman dan bersahabat saja itu lebih baik dan benar.
AKK : Kak, tetapi kata temanku kalau kita tidak pacaran itu nggak keren, sedangkan kalau pacaran nggak pakai ciuman, raba-raba, dan buka-bukaan dan berhubungan yang hampir kaya orang yang sudah menikah itu pacarannya anak kecil.
PKK : Weleh-weleh, mari kita lihat apa kata Firman Tuhan dan mari kita mentaatinya.

4. “Chauvinisme” Gank
Di salah satu kota yang penulis layani, ada kelompok gank siswa yang cukup “new’s”, dimana gank ini tidak terdiri dari anak-anak berandalan yang biasanya suka ngompas siswa-siswa lainnya, tetapi gank ini ada dan berdiri berdasarkan penampilan fisik. Gank ini di salah satu kota yang penulis layani memproklamasikan diri dengan nama KCK ( Kumpulan Cowok dan Cewek Keren), dimana para anggotanya hanya diperuntukkan bagi para siswa yang cakep dan berpenampilan keren saja, sedangkan untuk siswa yang tidak masuk “standart “ cakep dan keren menurut mereka maka berlakulah “Uang Gopek buat beli Teh-Capek Deh”.
Beberapa sharing dari para siswa ada teman mereka yang “ngebet” banget untuk bisa menjadi anggota KCK tersebut.

5. Broken Home
Pernikahan yang tidak langgeng dan tidak bertahan yang membuahkan perceraian sudah bukan perihal yang “unik” di kehidupan para siswa. Pernah suatu kali penulis melayani sebuah kelompok PA siswa, dimana 80%-90% anggotanya berasal dari keluarga yang broken home. Melayani siswa dengan latar belakang keluarga seperti ini membutuhkan perhatian, kasih, tenaga dan lain-lainnya secara ekstra.

Tindakan Nyata
Melihat kehidupan para siswa
yang sempat membuat penulis “lemas” karena tidak habis mengerti, cukupkah pengetahuan dan sistematika yang kita miliki menjawab tantangan siswa jaman sekarang?. Tidak sekedar bicara hal-hal yang dalam dan luas dalam pengetahuan mungkin itu salah satu cara menjawab tantangan ini, tetapi pikiran dan hati kasih yang terejawantahkan secara nyata melalui pengurbanan kita itulah wujud kita meluruskan jaman yang bengkok ini. Para siswa tidak hanya butuh argumentasi tetapi juga bukti terkini bukan kisah-kisah di waktu lalu
Meja makan, ikut ambil bagian membayar sekolah yang kesulitan, kado khusus setiap ulang tahun, sms dan telfon kita sebagai wujud perhatian, pulsa untuk mendukung mereka yang menjadi aktivis pelayanan, waktu kita, perasaan dan pikiran kita dan akhirnya semua bagian dari hidup kita harus kita bagikan bersama-sama dengan pengajaran yang kita berikan, sehingga kita tidak hanya sekedar bicara.
Seperti Tuhan Yesus yang tidak hanya mengajar tetapi juga memberi “makan” orang yang mendengar pengajaran-Nya mari kita melakukannya.
Segala Kemuliaan Hanya Bagi Allah Tritunggal.

(*Penulis adalah Ass. Staf Siswa Perkantas Kediri)