Oleh: Wahyu Dwijayati*
Pendahuluan
Apa yang menjadi kabar baik
bagi Anda sekarang? Apakah indeks prestasi studi yang baik, posisi jabatan/karier yang meningkat, sudah dapat teman hidup, atau hal-hal lain? Namun kabar yang baik bagi Anda tersebut, belum tentu penting bagi dunia.
Akhir-akhir ini media massa sering kali memberitakan kondisi dunia yang makin tidak baik dalam segala lini kehidupan. Mulai dari isu kenaikan harga BBM yang pasti akan disertai dengan kenaikan harga barang-barang pokok. Bencana alam yang tidak kunjung berakhir, kerusakan hutan yang memperparah pemanasan global, kriminalitas dan kekerasan yang makin sistemik dalam kehidupan masyarakat. Tidak heran kita sering mengalami kekuatiran, ketakutan, kehilangan damai sejahtera mendengar berita-berita tersebut di tengah kabar baik yang mungkin kita alami.
Natal Adalah Kabar Baik!
Kabar baik di tengah kabar-
kabar yang tak baik tentu bisa menjadi pengharapan bagi dunia. Di tengah kondisi yang kurang baik, perikop Lukas 2:8-20 memberikan kesan yang berbeda yaitu Natal adalah kabar baik! “Jangan takut adalah salah satu tema kunci dari kisah Natal (Luk. 1:13, 30, 74; lihat Mat. 1:20). Secara harafiah, malaikat itu berkata, “Aku memberitakan kepadamu berita baik, suatu kesukaan besar untuk semua orang” (ay. 10). Ia menggunakan kata euanggelisomai yang berarti memberitakan kabar baik (good news). Berita yang bukan hanya ditujukan kepada bangsa Yahudi saja tetapi kepada semua bangsa. Injil yang mencakup seluruh dunia.
Kata Yahudi shalom (damai sejahtera) berarti jauh lebih lebih luas daripada suatu genjatan senjata dalam peperangan. Kata ini berarti kesejahteraan, kesehatan, kemakmuran, rasa aman, kesehatan dan keutuhan. Itu lebih berkaitan dengan watak daripada keadaan. Kondisi waktu itu mungkin juga sama sulitnya seperti sekarang. Pajak tinggi, angka pengangguran dan kemiskinan tinggi, moralitas menurun dan pemerintah militer Romawi memegang kendali dengan slogannya yang ironis dengan kondisi bangsa yang dijajahnya yaitu “Pax Romana” yang terkenal itu (yang berarti Romawi yang damai). Hukum Romawi, filosofi Yunani dan agama Yahudi tidak dapat memenuhi kebutuhan hati manusia.
Gembala, Penerima dan Pewarta Kabar Baik Pertama
Jadi berita baik macam apa yang
malaikat sampaikan kepada para gembala saat itu? Allah mengutus Juruselamat untuk memenuhi kebutuhan manusia. Mengapa berita baik ini diberitahukan kepada para gembala? Mengapa bukan kepada para bangsawan, imam atau ahli Taurat? Ini menunjukkan bahwa Allah mengungkapkan kasih karunianya kepada umat manusia, termasuk mereka yang statusnya rendah di mata masyarakat. Status gembala adalah orang-orang yang tersisih di antara bangsa Israel. Karena pekerjaan membuat mereka najis untuk mengikuti aturan ibadah, membuat mereka jauh dari Bait Suci. Tapi malaikat mendatangi mereka dan menyatakan berita baik. Ini berarti Allah juga memanggil yang miskin, tersisih dan dipandang rendah untuk mengalami kabar baik.
Apakah para gembala itu memahami maksud malaikat? Saat menerima kabar itu tidak dijelaskan apakah mereka paham dengan konsep Juruselamat yang malaikat sampaikan. Yang pasti sebagai bangsa Israel—mereka sudah lama menanti kehadiran Juruselamat yang bisa membebaskan Israel dari bangsa Romawi. Respon mereka untuk segera pergi ke Betlehem menunjukkan bahwa penglihatan mereka bukan suatu kayalan. Kerinduan yang sudah lama terpendam dan unsur ketaatan terhadap perintah malaikat membawa mereka kepada Sang Juruselamat.
Bukan hanya itu, setelah menemukan Sang bayi yang dimaksud, mereka mengambil alih peran malaikat (ayat 13-14). Mereka memberitakan kabar baik itu kepada orang lain (ayat 17). Sebuah tantangan baru bagi seorang gembala. Bukankah selama ini mereka jarang datang ke bait suci—bagaimana mungkin mereka bisa berkotbah menyampaikan shalom? Orang yang kesaksiannya di pengadilan tidak diakui—akankah kesaksiannya bisa dipercaya bahwa mereka telah melihat juruselamat? Orang yang jarang bergaul dengan masyarakat—bagaimana mereka mengadakan pendekatan kepada orang banyak agar berita yang mereka bawa bisa tersampaikan? Ternyata tanpa pemahaman teologi yang tinggi, tanpa metode, tanpa pendekatan yang baik, toh mereka tetap bisa mewartakan kabar baik. Sebab, mereka telah melihat dengan mata kepala sendiri Sang Juruselamat itu. Pujian dan kehormatan bagi Allah itu tak bisa dibendung untuk tidak diwartakan kepada banyak orang (ayat 20).
Kebutuhan Dunia Akan Kabar Baik
Pelajaran apa yang bisa kita
petik dari perikop ini? Pertama, dunia butuh kabar baik. Kondisi yang sudah dibahas di awal menunjukkan betapa pentingnya kita mewartakan kabar baik. Banyak orang mengalami kekuatiran dan keputusasaan akan masa depan dengan kondisi dunia yang makin tidak baik. Daya tampung RS Jiwa menjadi menurun karena banyaknya pasien yang stress dengan kondisi hidup mereka. Dunia perlu tahu bahwa ada Juruselamat yang menjadi pengharapan bagi mereka, bukan untuk hidup mereka di dunia ini saja tetapi juga untuk hidup kekekalan mereka. Ini kebutuhan yang sangat mendesak, jadi tidak bisa ditunda-tunda. Kita perlu membawa kabar baik kepada dunia sekarang, bukan besok atau tahun yang akan datang.
Kedua, setiap orang percaya harus menjadi pewarta kabar baik tersebut. Mengapa? Itulah perintah Tuhan Yesus agar kita memberitakan Injil ke seluruh dunia (Mat. 28:19-20). Selain itu, bukankah kita sudah mengalami kabar baik itu sendiri? Bukankah kita sudah mengalami sukacita karena penebusan Kristus? Para gembala yang sederhana telah menjadi teladan bagi kita untuk memberitakan kabar baik. “Kabar baik untukku” seharusnya juga menjadi “Kabar baik untuk semua orang”. Betapa egoisnya kita, jika kabar baik itu hanya untuk diri kita sendiri. Tidak ada alasan kita belum memahami teologia, tidak punya metode atau takut ditolak untuk memberitakan Injil. Sebab para gembala itu telah membuktikan bahwa tantangan atau hambatan apapun bisa diterobos. Sukacita yang dialami karena berjumpa Juruselamat, itulah yang diberitakan. Sederhana bukan? Lantas mengapa harus takut? Hal ini bukan berarti kita tidak perlu metode atau pemahaman teologia atau sikap yang bijaksana dalam memberitakan Injil. Namun yang dimaksud adalah jangan menggunakan hal-hal tersebut untuk excuse dan menunda untuk memberitakan Injil.
Ketiga, kita perlu menghadirkan Shalom itu di tengah-tengah dunia, bukan hanya dengan memberitakan Injil tetapi juga menghadirkan damai sejahtera dalam seluruh aspek hidup kita. Baik di rumah tangga, sekolah, tempat kerja, gereja, lingkungan sekitar, bangsa dan negara kita. Untuk itu butuh kehadiran orang-orang yang berwatak Kristus, yang hidupnya selaras dengan Injil yang diberitakan. Sehingga kabar baik itu bukan hanya didengar tetapi juga disaksikan oleh dunia melalui hidup kita yang diubahkan terus menerus. Injil yang mengubah hidup kita adalah kabar baik bagi kita dan kabar baik bagi dunia. Soli deo Glory. (*Penulis adalah Staf Siswa Surabaya)