Senin, 28 Januari 2008

JOIN THE MISSION

Oleh Victor S. Sanga,S.T

Pendahuluan
Setiap hari berbagai media
komunikasi yang bersentuhan dengan kita terutama TV dan koran, banyak memberitakan peristiwa yang terjadi di dunia, secara khusus di bangsa ini yang menimbulkan keprihatinan kita. Mulai dari bencana alam (banjir, gempa, letusan gunung, kemungkinan tsunami), berbagai penyakit, kriminalitas yang semakin meningkat dan kompleks, kebobrokan pemimpin-pemimpin dan juga degradasi rohani yang semakin parah, yang ditandai dengan munculnya berbagai aliran, yang dinilai sesat oleh agama-agama tertentu. Realita ini menegaskan bahwa dunia masih membutuhkan orang-orang mau berperan aktif melanjutkan pembaharuan atas peristiwa-peristiwa tersebut. Orang Kristen haruslah yang pertama kali berdiri untuk menjawab kebutuhan ini, mengejawantahkan misi Allah bagi dunia.

Misi Allah bagi Dunia
Kejatuhan manusia ke dalam
dosa (Kej 3) telah membawa berbagai dimensi disintegrasi dalam kehidupan manusia. Relasi Allah dengan manusia hancur, manusia tidak lagi memiliki hubungan yang intim dengan penciptanya. Bukan hanya itu saja, relasi manusia dengan sesamanya menjadi buruk, relasi yang seharusnya penuh kasih telah tergantikan dengan kebencian, perseteruan dan berbagai pertentangan. Bahkan alam, tempat kediaman manusia, pun ikut terkutuk oleh kejatuhan ini. Disharmoni dan bencana terus bermunculan dan seakan tak ada habisnya. Manusia tak berdaya terhadap dosa dan terus terpuruk oleh berbagai disintegrasi ini.
Misi Allah hadir dan dinyatakan untuk membawa kembali manusia kepada kebenaran, misi ini dirancang oleh Allah untuk menyelamatkan dan memulihkan kehidupan manusia sendiri, sebuah misi yang telah dimulai dan masih terus berlanjut. Kitab Matius menggambarkan dengan sangat baik akan misi Allah ini. Injil Matius dimulai dengan pemberitaan kelahiran Yesus, Anak Allah, yang menyelamatkan umat Allah dari dosa mereka (Mat 1:21). Bahkan di sepanjang kitab ini, misi Allah diberitakan dengan konsisten, berbagai keterikatan dengan dosa dilepaskan, berbagai hubungan dipulihkan, berbagai kelemahan dan penyakit disembuhkan, berbagai kebutuhan dipenuhi. Kehidupan manusia dipulihkan dari berbagai disintegrasi. Dan di akhir dari Injil Matius, dicatat sebuah amanat yang harus diberitakan ke seluruh penjuru dunia, amanat yang tidak lain adalah misi Allah sendiri (Mat 28:19-20).

Keterlibatan dalam Misi Allah
Keterlibatan orang percaya
dalam misi Allah bukanlah sebuah pilihan tetapi keharusan. Paling tidak ada dua alasan penting mengapa orang percaya perlu terlibat dalam misi Allah. Pertama, ia sendiri telah diselamatkan melalui misi Allah (saved through the mission). Kedua, Allah memanggil orang percaya untuk bekerja bersama-Nya dalam misi ini (calling into the mission).

Saved Through The Mission
Keselamatan merupakan
pengalaman yang selalu ingin dibagikan oleh orang-orang percaya. Ketika seseorang berjumpa dengan Allah hidupnya mengalami transformasi, hidupnya perlahan-lahan mengalami pemulihan dari berbagai disintegrasi karena dosa, dia berjumpa kembali dengan Sang Pencipta, dia yang dahulu mati kini dihidupkan kembali dan kehausan mereka akan Allah terpuaskan. Kesadaran akan realita inilah yang mendesak orang-orang percaya untuk membagikan pengalamannya. Seperti dua sisi mata uang logam yang tidak dapat dipisahkan, demikianlah kaitan antara pengalaman diselamatkan melalui misi Allah dan keterlibatan dalam misi itu sendiri.
Andreas yang mengalami perjumpaan dengan Mesias segera memberitahukan hal tersebut kepada saudaranya, Simon Petrus, ia berkata: “Kami telah menemukan Mesias” (Yoh 1:41), perempuan Samaria menceritakan perjumpaannya dengan Yesus kepada orang sekampungnya (Yoh 3:39-42), seorang lumpuh selama 38 tahun menceritakan pengalamannya bersama Yesus kepada orang-orang Yahudi (Yoh 5: 15) dan juga Lazarus membawa banyak orang Yahudi percaya karena kesaksiannya (Yoh 12:10-11). Bahkan sampai hari ini kesaksian orang-orang percaya yang membagikan hidup mereka kepada orang lain di dalam misi Allah terus dicatat.

Calling into The Mission
Allah memanggil orang percaya
untuk terlibat dalam misi-Nya bagi dunia ini. Sepanjang sejarah yang tertulis di dalam Alkitab, Allah berulang kali dan terus menerus memanggil orang-orang untuk terlibat dalam misi-Nya, yaitu para nabi, hakim-hakim, rasul-rasul dan bahkan setiap orang percaya. “Kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu menceritakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terangNya yang ajaib” (I Pet 2:9). Panggilan ini merupakan sebuah kehormatan bagi orang percaya untuk bersama-sama dengan Allah mewujudkan misi-Nya di dalam dunia ini. Orang percaya adalah rekan sekerja-Nya dalam menyatakan misi Allah bagi dunia (Mat 28:19-20, I Kor 3:9).
Berdasarkan dua alasan inilah kita dapat melihat bahwa orang percaya yang tidak bermisi adalah orang yang buta dan picik yang telah lupa akan karya Allah dalam hidupnya, orang yang tidak mengerti dan menghargai panggilan Allah – yang menolak bermitra dengan Allah, Sang Pemilik Dunia – untuk mengerjakan misi Allah bagi dunia ciptaan-Nya.

Hidup dalam Misi Allah
Panggilan untuk terlibat dalam
misi Allah bukan berarti panggilan untuk menduduki jabatan tertentu dalam gereja atau lembaga spiritual, bukan berarti panggilan untuk meraih gelar dalam bidang teologi, bukan berarti panggilan untuk menguasai berbagai metode penginjilan. Esensi panggilan misi Allah adalah panggilan untuk hidup dalam perspektif karya penyelamatan Allah bagi dunia. Sebuah panggilan untuk menempati suatu bagian pada tubuh Kristus dan mewujudkan perannya bersama-sama dengan bagian-bagian lain untuk mengerjakan misi Allah. Pendeta atau jemaat, pengajar atau guru atau murid, pedagang atau petugas kebersihan, artis atau buruh pabrik dapat mengerjakan misi Allah dalam bidang masing-masing.
Selanjutnya, keterlibatan dalam misi Allah adalah keterlibatan yang bersifat holistik, sebuah sharing kehidupan secara utuh. Yesus dalam menghidupi misi Allah bukan hanya membawa perubahan rohani, tetapi terlibat secara utuh membawa perubahan dalam berbagai pergumulan hidup sehari-hari manusia. Ia menyembuhkan mereka, memberi mereka makan, tinggal dan makan bersama mereka, mengajar dan menegur mereka. Ia bahkan masuk dalam pergumulan sosial, politik dan hukum. Dan ketika Ia mengutus murid-murid-Nya (Mat 10 dan 28:19-20), Ia tidak sekedar mengutus mereka untuk menceritakan berita Injil tetapi agar mereka secara aktif juga berperan dalam pergumulan jasmani orang-orang yang dilayani.
Hidup dalam misi Allah adalah sebuah perspektif karya penyelamatan yang tertuang dalam hidup. Sebuah perspektif misi yang dapat dikerjakan dalam berbagai bidang kehidupan yang membawa manusia pada pemulihan hidup dari berbagai disintegrasi. Secara praktis dan sederhana, misi adalah kehidupan sebagai tubuh Kristus yang terus memberitakan Injil dan berbagi kasih dengan orang yang sakit, yang tidak berpengharapan, orang yang bergumul dengan kemiskinan, yang tidak berpendidikan serta keterlibatan untuk turut berperan dalam melestarikan alam, berdoa bagi pergumulan bangsa, mendukung kebijakan pemerintah dan taat kepada hukum. Misi pemulihan dunia adalah kepada pekerjaan yang telah dimulai oleh Allah, dan dikerjakan bersama-sama dengan Allah dan membawa kemuliaan bagi Allah. (Penulis adalah Mahasiswa SAAT Malang)