Senin, 28 Januari 2008

HIPERAKTIF

oleh Agung Kurniawan,M.Psi

Memasuki abad 20 dengan
kemajuan tekologi dan ilmu pengetahuan, berdampak membawa keuntungan bagi umat manusia. Akan tetapi juga bermunculan kasus-kasus penyakit dimana sebelumnya tidak pernah atau jarang muncul. Kasus gangguan hiperaktif pada anak juga merupakan salah satu gangguan yang paling banyak muncul di abad ini. Banyak factor yang dapat menjadi factor pengaruh munculnya kasus hiperaktif, apakah itu lingkungan fisik maupun pola asuh orang tua yang semakin sibuk dalam pekerjaan. Gejala hiperaktif sebenarnya mirip dengan anak yang super aktif akibat kepenuhan gizi dan kelebihan energi. Perbedaan yang menyolok adalah, pada anak hiperaktif gerakan aktifnya ditandai oleh aktifitas yang tidak bertujuan, terarah dan tidak sesuai dengan normalitas anak seusianya. Contoh : anak yang super aktif berlari-lari dengan teman-temannya sebagai wujud permainan, sedangkan anak hiperaktif berlari-lari kemana-mana sendiri tanpa tujuan. Penampakan lainnya dari anak hiperaktif adalah selalu gagal menyelesaikan tugas-tugas dan selalu berpindah-pindah tugas. Pendek kata hiperaktif adalah ketidakmampuan mengendalikan impuls-impuls gerakan dirinya. Tetapi anak-anak usia 2-3 tahun yang sangat aktif tidak dikategorikan gangguan hiperaktif karena pada umunya anak-anak usia tersebut memang sangat aktif, khususnya untuk anak-anak yang memiliki potensi intelektual tinggi dan sangat eksploratif, sering diomeli orang tua dan hidup dalam lingkungan yang terbuang.

Penyebab
Faktor penyebab gangguan hiperaktif antara lain adalah : disfungsi otak yang mengakibatkan gerakan-gerakan berlebihan yang tidak bertujuan, pengaruh lingkungan (racun di udara : CO2 dsb) serta benturan-benturan di kepala. Tapi sampai saat ini belum diketahui penyebab pasti dari munculnya gangguan hiperaktif pada anak. Kemudian yang perlu diketahui adalah langkah pencegahan munculnya perilaku hiperaktif pada anak. Ada beberapa langkah pencegahan yaitu sebagai berikut :
1. Menciptakan lingkungan yang sehat bagi anak
Beberapa studi dengan jelas menyatakan bahwa kondisi fisik dan mental dari kehamilan seorang ibu dapat mempengaruhi tingkat aktifitas dan daya konsentrasi dari si anak. Selama kehamilan, bermacam-macam penyakit, narkoba, dan stres yang berkepanjangan dapat menjadi penyebab munculnya perilaku hiperaktif pada anak-anak. Nutrisi yang baik dan menghindari narkoba atau rokok adalah jaminan terbaik dari suatu lingkungan kehamilan yang normal. Hasil studi menyatakan bahwa terdapat hubungan antara hiperaktif dan pemakaian obat-obatnya yang berlebihan, bahkan juga menyebabkan munculnya gangguan impulsif dan kekacaun pikiran pada anak. Selain itu, omelan yang berlebihan pada masa kanak-kanak juga dapat mengakbiatkan munculnya gangguan hiperaktif.

2. Mengajarkan perilaku atau aktifitas yang memiliki tujuan.
Sejak masa bayi, perhatian dan penghargaan/pujian untuk beberapa pencapaian yang dilakukan oleh anak dapat menguatkan perilaku yang efektif. Hal yang sama juga, orang tua atau saudara kandung, merupakan contoh dalam kemampuan untuk memusatkan perhatian pada tugas dan menyelesaikan tugas-tugas tersebut. Sepanjang kehidupan anak, orang tua berperan menjadi model yang ditiru oleh anak-anak mereka. Dengan demikian orang tua dapat memberikan contoh perilaku yang memiliki tujuan atau maksud.

Apa yang harus dilakukan
Jika memiliki seorang anak yang memiliki gangguan hiperaktif, maka beberapa cara dapat dilakukan untuk meminimalkan perilaku hiperaktif pada anak, yaitu :
1. Memberikan tanggapan verbal tentang perilaku yang sesuai
Pujian dan penghargaan merupankan unsur yang penting dalam mengurangi perilaku hiperaktif. Orang tua perlu memberikan pujian untuk pencapaian suatu perilaku yang dicapai oleh anak hiperaktif. Misalnya : ketika si anak dapat tetap konsentrasi atau fokus pada tugas dan berhasil menyelasikan tugasnya, maka orang tua perlu memberikan pujian seperti : „ betapa luarbiasanya kamu dapat tetap duduk dan menyelesaikan tugas itu „ Orang tua dapat juga mengarahkan si anak untuk melakukan suatu tugas dan mencoba menyuruh anak melakukannya dengan cara yang baik, misalnya : kamu akan menjadi anak yang hebat jika kamu berhasil menyelesaikan tugas tersebut.” Selain itu, orang tua juga dapat memberikan contoh terlebih dahulu bagaimana menyelesaikan suatu tugas kemudian mendampingi si anak dengan cara memberikan perintah sebagaimana tersebut di atas. Jika si anak berhasil menyelsaikan, berikan pujian positif pada si anak, demikian seterusnya.

2. Cara kontrak
Cara kontrak adalah suatu perjanjian antara si anak dengan orang tua, dimana si anak diminta berkomitmen untuk melakukan suatu tugas, dan orang tua berkomitmen untuk memberikan hadiah positif yang disukai si anak. Si anak diminta memberikan laporan kepada orang tua mengenai tugas-tugas yang berhasil dilakukan. Hadiah yang diberikan seharusnya sesuai dengan keberhasilan si anak melakukan beberapa tugas yang diberikan. Misalnya : jika si anak berhasil tetap duduk tenang ketika makan tujuh hari berturut-turut maka si anak akan diberi hadiah sesuai kontrak. Namun jika si anak hanya berhasil melakukan selama empat hari saja, maka si anak hanya memperoleh setengah dari hadiah yang dijanjikan.

3. Mengajarkan mengontrol gerakan yang berlebihan
Si anak diajarkan suatu cara untuk menghentikan gerakan hiperaktifnya. Misalnya : jika si anak mulai ingin berlari-lari padahal tugasnya belum selesai, si anak diajarkan untuk bergerak beberapa menit dengan toleransi waktu tertentu atau membiarkan dirinya berlari hanya 2 menit saja untuk memuaskan gerakan hiperaktifnya, kemudian di minta kembali lagi menyelesaikan tugasnya demikian seterusnya jika keinginan untuk bergerak tersebut mulai muncul kembali. Tujuannya adalah menginterupsi gerakan beberapa menit saja.
(*Penulis adalah Staf Departemen Konseling dan Konselor Perkantas Jatim)