Senin, 28 Januari 2008

A MESSENGER OF GOD

“Like the coolness of snow at harvest time is a trustworthy messenger to those who send him; he refreshes the spirit of his masters” (Proverbs 25 : 13).

Oleh Diana Rante SK,ST

Pekerjaan sebagai seorang kurir/
pembawa pesan (a messenger) pada zaman dahulu merupakan suatu pekerjaan yang sangat penting, berbeda dengan kondisi saat ini yang ditandai dengan semakin pesatnya perkembangan teknologi komunikasi, sehingga kita tidak melihat pentingnya peranan ini. Pada zaman dulu belum ada sarana komunikasi yang memadai seperti telepon, handphone, ataupun e-mail sehingga kehadiran seorang messenger sangat dibutuhkan. Tugas seorang messenger adalah membawa pesan dari seseorang kepada yang lain, dari suatu kantor/lembaga ke kantor/lembaga lain, dari seorang pemimpin kepada pemimpin lain, dan sebagainya. Yang pasti pesan itu amatlah penting dan bahkan merupakan suatu rahasia yang tidak boleh diketahui oleh siapapun selain sang messenger.
Dalam menjalankan tugasnya, seorang messenger harus mempertaruhkan dirinya bahkan mungkin juga keluarganya demi pesan itu. Medan yang dia tempuh juga cukup sulit. Tidak jarang dia harus pergi dari satu desa ke desa lain, dari kota ke kota lain, dan bahkan harus melintasi suatu negara ke negara lain demi menyampaikan pesan yang sangat penting tersebut. Tidak jarang seorang pembawa pesan harus berjalan kaki melewati hutan, gunung dan lembah karena tidak tersedianya sarana transportasi yang memadai. Dia harus berpacu dengan waktu agar pesan itu bisa disampaikan tepat pada waktunya. Belum lagi jika dia harus menyampaikannya secara lisan karena keterbatasan sarana yang ada, maka dia hanya bisa mengandalkan daya ingatnya. Sesudah menyampaikan pesan itu, dia harus segera kembali melewati medan yang sama kepada orang yang menyuruhnya untuk menyampaikan jawaban dari pesan tersebut atau minimal untuk mengatakan bahwa pesannya sudah diterima oleh orang bersangkutan dengan baik dan tepat waktu. Hal-hal seperti inilah yang menyebabkan peran seorang messenger itu cukup berat tapi di satu sisi juga sangat penting. Oleh karena itu seorang messenger haruslah seseorang yang mau dan siap pergi kapan saja dia dibutuhkan dan mau pergi ke mana saja dia harus diutus. Dia pun harus menyampaikan pesan itu secara tepat, pada waktu yang tepat, dan pada orang yang tepat. Jika tidak demikian maka pesan tersebut akan sia-sia saja.
Namun, bagi sebagian orang, pekerjaan ini benar-benar sangat melelahkan, membosankan dan menakutkan. Terlalu banyak resiko yang harus ditanggung jika terjadi kesalahan. Hal inilah yang menyebabkan tidak banyak orang yang mau untuk menempati posisi tersebut kecuali karena terpaksa. Mereka yang mau adalah mereka yang benar-benar mencintai pekerjaan itu, sadar akan pentingnya tugas itu, dan mau melakukannya dengan senang hati. Jika tidak demikian, maka mereka tidak akan bisa bertahan lama atau pekerjaannya tidak akan maksimal.
Kehidupan seorang Kristen pun layaknya seperti seorang pembawa pesan. Kita sebagai orang Kristen adalah pembawa-pembawa pesan dari Allah (the messengers of God) kepada dunia. Kita menjadi duta-duta yang diutus Allah kepada manusia ciptaan-Nya. Sebagai seorang pembawa pesan Allah, maka setiap kita berperan sebagai perantara antara Allah dan dunia. Apa yang ingin disampaikan Allah kepada dunia, akan disampaikan kepada kita terlebih dahulu. Dari kitalah pesan Allah itu akan diterima oleh dunia.
Seorang messenger of God bisa menjalankan tugasnya dengan baik hanya jika dia selalu dekat dengan Allah dan terus menjalin komunikasi dengan Allah. Dengan demikian dia akan cepat mendengar dan tahu ketika Allah memanggilnya untuk menjalankan tugas. Dia akan memiliki kepekaan terhadap Allah karena sehari-hari dia bergaul akrab dengan Allah. Dia juga tidak akan salah menyampaikan pesan dan isi hati Allah karena Dia sudah mengenal Allah dengan baik.
Apakah pesan Allah yang harus disampaikan oleh messenger kepada dunia itu? Rahasia apakah yang Allah- Sang Pencipta langit dan bumi itu- percayakan kepada kita untuk disampaikan kepada dunia? Ternyata pesan itu merupakan ungkapan isi hati Allah yang sangat pribadi kepada dunia. Ini merupakan pesan cinta dari Allah kepada umat-Nya yaitu bahwa Dia sangat mengasihi mereka. Dan Dia membuktikan kasih-Nya itu dengan memberikan Anak-Nya yang tunggal kepada dunia. Dia juga menjanjikan hidup kekal bersama-Nya di dalam sorga dan itu bisa didapatkan dengan cara mempercayai Anak Tunggal-Nya yang sudah Dia utus ke dalam dunia dan mati untuk menggantikan umat (Yohanes 3:16).
Mengapa Allah perlu memakai kita untuk mejadi pembawa pesan-Nya? Sebagai Allah yang Maha Kuasa yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, bukankah Dia sanggup menyampaikan pesan itu sendiri kepada dunia tanpa harus melalui kita? Dan mengapa harus kita? Ya, Dia memang bisa dan sanggup menyampaikan pesan-Nya sendiri tanpa kita. Tetapi, Dia memakai kita karena memang Dia menginginkan hal itu. Dia menghendaki kita untuk mengetahui isi hati-Nya terlebih dahulu sebelum hal itu tersampaikan kepada dunia. Dia memutuskan untuk mempercayakan rahasia hati-Nya kepada orang-orang kepercayaan-Nya yaitu kita. Dan Dia sendirilah yang memilih siapakah messenger yang akan Dia utus. Bentuk komunikasi seperti inilah yang dipilihnya untuk berelasi dengan dunia yaitu dengan memakai kita sebagai pembawa pesan-Nya. Alasan kedua mengapa Allah memakai kita adalah karena inilah wujud kasih dan kepercayaan-Nya kepada kita sebagai umat pilihan yang sangat dikasihi-Nya, yaitu ketika kita dilibatkan dalam pekerjaan-Nya sebagai rekan sekerja-Nya. Dia berharap, melalui kitalah nantinya akan bermunculan para messenger baru, rekan-rekan kerja baru yang juga akan membawa pesan itu ke orang lain lagi.
Orang Kristen yang menyadari hal ini seharusnya akan sangat bersyukur kepada Allah karena diberi kepercayaan untuk memegang peranan penting tersebut. Siapakah kita ini sehingga diberi kesempatan begitu besar untuk menjadi rekan sekerja dari Sang Pencipta langit dan bumi? Mereka yang sungguh-sungguh menyadari hal ini tidak akan bersungut-sungut dalam menjalankan tugas karena tahu dan sadar bahwa itu adalah anugerah di mana tidak semua orang diberi kesempatan untuk menjadi wakil Allah bagi dunia. Mereka akan melebur di dalam pekerjaan itu dan menjadikannya sebagai bagian dari hidupnya. Kesadaran ini jugalah yang akan memampukan dia untuk memiliki kerelaan dan tanggung jawab dalam menjalankan tugasnya. Dia akan menjadi hamba Allah yang rela diminta untuk pergi kemana saja dan mau melakukan apa saja yang diperintahkan Sang Tuan dengan penuh rasa tanggung jawab. Di dalam Amsal 25:13 juga dikatakan bahwa seorang messenger akan menjadi orang yang setia (terjemahan LAI) dan dapat dipercaya (terjemahan NIV). Setia berarti messenger tekun dan mau melakukan tugas itu sampai selesai. Apapun tantangan yang akan dihadapi, dia tidak akan menyerah atau berhenti. Dapat dipercaya berarti Tuannya yakin bahwa pesan yang dititipkan kepada messenger akan disampaikan kepada dunia dengan segera, tepat waktu dan akurat persis sama seperti yang diberikan kepada sang messenger. Tuannya percaya bahwa pesan-Nya tidak akan ditambahi atau dikurangi oleh messenger. Dia akan seperti air sejuk bagi jiwa yang dahaga, mendatangkan kesembuhan bagi mereka yang menerima pesan itu (Amsal 13:17b; 25:25) dan menyegarkan jiwa Tuannya juga (Amsal 25:13).
Namun, kenyataannya ada banyak orang Kristen yang tidak menjalankan peran itu dengan baik. Ada yang dengan sengaja menolak, ada yang melakukannya dengan terpaksa dan bersungut-sungut, ada yang mengiyakan di depan Allah tapi seiring berjalannya waktu ia melupakan tugas itu. Ada juga yang pada awal menerima tugas menjalankannya dengan bersemangat tapi lama-kelamaan menjadi bosan lalu menyerah dan berhenti. Ada yang menjalankannya namun tidak konsisten, katanya “tergantung mood”.
Mengapa begitu? Karena kita tidak atau kurang memaknai tugas sebagai messenger sebagai anugerah. Kita menerima tugas itu semata-mata sebagai beban yang mengikat dan membatasi gerak kita. Kita malah menyia-nyiakan kesempatan untuk berelasi langsung dengan Sang Penguasa dunia melalui sikap kita yang seenaknya terhadap Dia. Kita tidak menyadari bahwa Allah tetap bisa menyampaikan pesan itu sendiri tanpa melalui kita. Kita tidak paham bahwa sebenarnya yang dipentingkan Allah bukanlah seperti apa respon dunia terhadap pesan-Nya (meski itu juga perlu) tetapi bagaimana kita sebagai messenger itu sendiri mengetahui, memahami, dan meresponi isi hati-Nya di dalam ketaatan tanpa keterpaksaan.
Dampak dari kurangnya pemahaman itu adalah kita tidak akan bisa menjadi “a good messenger” bagi Allah, Tuan kita dan bagi dunia ini. Kita yang seharusnya menjadi alat efektif bagi Allah untuk menyampaikan pesan-Nya malah menjadi perusak. Kita menjadi orang-orang bebal yang bisa mencelakakan atau merugikan orang lain & Tuan kita sendiri (Amsal 13:17a; 26:6). Dunia tidak menerima pesan Allah yang seharusnya mereka terima dari kita. Atau, mereka menerimanya juga tapi tidak akurat, bahkan bisa salah karena keteledoran dan kemalasan kita. Apa kata dunia? Relasi kita dengan sang Tuan pun menjadi renggang. Kita menjadi messenger yang kurang memahami isi hati-Nya, bahkan tidak tahu sama sekali.
Jadi, sebenarnya yang menjadi tantangan terbesar bagi seorang messenger dalam menjalankan tugasnya bukanlah seberapa sulit medan yang dia tempuh atau ketiadaan sarana-sarana pendukung, atau kurangnya kemampuan yang dia miliki. Tantangan terbesar kita sebagai a messenger of God bukanlah lingkungan melainkan ketekunan dan kesetiaan kita untuk menjalankan tugas ini. Seberat apapun tantangan dari luar tidak akan ada artinya jika kita punya kemauan keras untuk menjalankan tugas itu hingga selesai dan menyadari bahwa tugas itu adalah anugerah yang tidak layak kita terima.
Natal semakin dekat. Ini menjadi suatu momen yang tepat bagi kita untuk memaknai kembali siapakah diri kita dan bagaimanakah kinerja kita selama ini dalam menjalankan peran kita sebagai para pembawa pesan sorgawi. Sudahkah kita menjadi a good messenger of God kepada dunia? Bagaimana dengan hari ini? Soli deo gloria.
(Penulis adalah Staf Mahasiswa Perkantas Surabaya)