oleh Johan Dereta,M.A
Memasuki masa Natal , biasanya banyak orang disibukkan oleh persiapan yang terkait dengan perayaan dan kegiatan untuk memeriahkan Natal. Mulai dari keterlibatan di kepanitiaan Natal gereja, atau kepanitiaan di tempat-tempat lain sampai dengan persiapan dana untuk hadiah anak-anak dalam keluarga sendiri. Kesibukan-kesibukan ini sering kali membuat kita melalui momen natal tanpa mendapatkan apa-apa, semua berjalan biasa-biasa saja. Belum lagi jika hal tersebut terjadi berulang-ulang dari tahun ke tahun. Masa natal berlalu dan orang-orang kembali menantikan masa Natal berikutnya dengan kemungkinan kesibukan yang itu-itu juga. Sekedar untuk memberikan “rasa” yang bukan biasa-biasa saja, tulisan ini mengajak kita melihat apakah Natal kali ini akan menjadi momen atau sekedar monumen.
Antara Monumen dan Momen
Dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia monumen diartikan sebagai barang apa yang sengaja dibuat untuk peringatan kepada orang ternama atau peristiwa penting (1987: 654). Di tengah- masyarakat luas, monumen sering dikenal dalam rupa bangunan-bangunan yang dibuat untuk memperingati suatu peristiwa, di tempat strategis, sangat indah dan wah! Kita tidak akan kesulitan untuk mencari, contohnya, Monumen Pancasila Sakti di Jakarta misalnya, dibangun untuk mengingat kepahlawanan para jendral dalam peristiwa pemberontakan PKI tahun 1965. Jika diteruskan, akan banyak sekali contoh yang bisa kita dapatkan. Apa yang menonjol dari semua ini? Monumen yang dibangun oleh manusia, berbentuk benda. Dalam bahasa Inggris kita mengenal istilah “memorial”, yang memiliki pengertian tanda peringatan berbentuk tugu, patung dan sejenisya, tetapi juga bisa diterapkan untuk upacara peringatan. Dengan demikian monumen tidak harus berarti benda, tetapi juga berarti peringatan akan peristiwa tertentu saja.
Perlukan monumen? Ada dua jawaban pertama, ya perlu! Monumen akan mengingatkan generasi yang akan datang terhadap peristiwa atau nilai-nilai tertentu yang telah terjadi di masa lalu, sehingga generasi tersebut akan terhindar dari kesalahan yang sama dari masa lalu serta memegang teguh nilai-nilai luhurnya. Dalam catatan Alkitab, Allah sendiri memberikan perintah kepada Yosua untuk membangun batu peringatan di tengah sungai Yordan (Yos 4:5), tujuannya untuk mengingatkan keturunan mereka bahwa bangsa Israel pernah menyeberang sungai Yordan dalam keadaan air terputus. Penulis tidak tahu, apakah batu-batu itu kini masih ada. Jikapun oleh gerusan waktu batu-batu tersebut kini sudah tidak ada lagi, berita Alkitab cukup berbicara jelas tentang hal ini. Jawaban yang kedua yang tersedia adalah tidak! Tidak diperlukan lagi monumen jika itu hanya sekedar menjadi stempel “gengsi”, atau sekedar perayaan sebagai simbol kemewahan. Monumen demikian tidak meninggalkan pesan melainkan sekedar kesan! Bagi beberapa orang hal ini menimbulkan kejengkelan, bagi sebagian lain decak kagum, hanya itu saja. Apalagi jika monumen itu dibangun atau dilaksanakan dengan memakan korban dari pihak rakyat. Monumen telah menjadi laknat! Mengapa demikian? Monumen tidak berhasil mencapai tujuan utamanya, tetapi justru menyengsarakan!
Ada hal yang lebih agung dari sekedar monumen yaitu momen, dalam pengertian sederhana berarti saat atau waktu. Dalam bahasa Yunani ada 2 kata yang menerangkan arti waktu yaitu kronos dan kairos. Kronos berarti urutan waktu, seperti halnya orang menghitung hari minggu, senin, selasa dan seterusnya. Dalam perbincangan umum, sering orang mengucapkan kata kronologi. Itu berasal dari pengertian ini. Sementara kairos memiliki pengertian saat atau kesempatan, seperti yang digunakan Paulus ketika menasihati jemaat Efesus (Ef 5:16) “...pergunakanlah waktu yang ada...”. Kata waktu dalam tulisan Paulus ini adalah kairos yaitu kesempatan. Kesempatan bisa muncul kapan saja termasuk ketika menyaksikan, merayakan peristiwa-peristiwa yang terkait dengan masa lalu.
Natal Menjadi Momen
Seringkali kehidupan orang
Kristen sama seperti monumen yang berdiri tanpa mencapai tujuan awal didirikan. Sebut saja Gereja yang mengadakan perayaan Natal besar-besaran, mengundang artis ternama dengan menghabiskan puluhan bahkan ratusan juta rupiah Namun setelah Natal berlalu gereja mulai sibuk dengan dirinya sendiri dan mengabaikan lingkungan sosial di sekitarnya
Perayaan Natal tentu boleh, sekalipun Alkitab tidak pernah memberi perintah untuk merayakannya. Natal pertama dicatat oleh ketiga penulis Injil, dan di antara berita itu, kita dapat mengetahui bagaimana malaikat Tuhan dan balatentara surga merayakannya (Luk 2:13-14), kini semua orang Kristen telah menikmati berkatnya. Selanjutnya peringatan Natal kini adalah kesempatan untuk mengingat kembali kasih Allah kepada manusia, sehingga Allah yang mulia mau menjadi manusia. Syair nyanyian E.G Heidelberg dengan judul ’Karna Kasih-Nya’ menolong kita untuk merenungkan hal ini. Lagu memberikan pertanyaan sekaligus jawaban yang baik. Kalimat pertama dalam lagu itu adalah pertanyaan ’Mengapa Yesus turun dari Surga masuk dunia glap penuh cemar?’ dan kalimat terakhir adalah jawabnya ’kasih-Nya ya karna kasih-Nya’. Namun demikian, mengingat saja tidak cukup! Karena jika hanya berhenti di sini, kita sekedar memperoleh penyegaran pengertian, bukan penyegaran rohani! Merayakan secara besar-besaran belaka juga tidak berguna jika tidak ada orang yang terberkati melaluinya.
Natal adalah kasih yang nyata, bukan euphoria belaka, bukan ideologi tetapi praktek hidup. Karenanya, Natal kini harus nyata dalam bentuk praktis, bukan sekedar kotbah-kotbah lantang, tetapi tindakan nyata yang memikirkan orang lain. Jika karena kasih-Nya, Allah sudi menemui dan menolong persoalan dosa manusia, apa alasan bagi orang Kristen tidak melakukan yang sama bagi orang lain? Jika persoalan dosa hanya bisa diselesaikan oleh Allah melalui Yesus Kritus yang kelahiran-Nya dirayakan, orang Kristen bisa berperan di dalam memerangi kemiskinan. Di negeri yang terkenal dengan gemah ripah loh jinawi (bahasa jawa, artinya subur makmur) ternyata ditemukan 17,2 persen penduduk Indonesia hidup di bawah garis kemiskinan. (Data BPS, Kompas, Rabu, 12 Juli, 2006). Tampaknya jumlah ini tidak berkurang, bahkan saat ini tercatat ada 37,1 juta jiwa dari seluruh penduduk negeri ini yang hidup dalam kemiskinan. (Kompas, Kamis 15 November 2007). Pemerintah berupaya mengatasi melalui JPS, KUT dan lainnya yang dulu pernah ada, namun 73% dari dana tersebut ternyata diselewengkan melenceng dari tujuannya sehingga tidak mencapai sasaran (http://www.pu.go.id).
Menilik data tersebut di atas kita dapat membandingkan berapa banyak dana yang telah gereja keluarkan untuk sekedar memeriahkan perayaan Natal, dan jika dilakikan dengan jumlah gereja yang ada, tentu dana tersebut dapat menolong banyak jiwa untuk keluar dari garis kemiskinan. Tentu saja Gereja harus berperan dalam penyelesaian persoalan kemiskinan ini. Inilah momen yang harus digunakan umat Tuhan untuk berperan nyata dalam persoalan negeri ini. Bukan hanya kemiskinan, banyak persoalan bangsa ini yang memerlukan peran serta orang Kristen di dalamnya.
Peristiwa Natal pertama tidak lepas dari persoalan, masalah yang pertama kali muncul adalah ancaman penceraian secara sepihak yang dilakukan oleh Yusuf terhadap Maria (Mat 1:19), hal ini bukan tanpa alasan, ketidakpahamannya akan rencana Allah telah menggiring munculnya pilihan ini. Jika akhirnya hal ini tidak terjadi, itu karena ada intervensi Allah pada Yusuf. Natal adalah kesempatan untuk melaksanakan konsolidasi, membangun dan menguatkan sendi-sendi kesatuan. Tataran yang terdekat dengan kita adalah keluarga. Ada apa dengan keluarga? Secara khusus keluarga Kristen memiliki tujuan: (1) Tujuan keselamatan; keluarga merupakan perantara bagi keselamatan, (2) Tujuan reproduksi; keluarga merupakan perantara untuk meneruskan keturunan dan mengelola bumi, (3) Tujuan penggambaran; keluarga merupakan perantara untuk menggambarkan hubungan Allah dengan umat perjanjian-Nya, (4) Tujuan pendidikan; keluarga merupakan perantara untuk meneruskan kebenaran rohani, (5) Tujuan pengasuhan; keluarga merupakan perantara untuk merawat anak-anak melalui proses pertumbuhan yang sehat.
Sekalipun begitu sentralnya keluarga dalam kehidupan ini, perhatian terhadap persoalan di sekitar keluarga masih sering terabaikan. Seiring dengan membiaknya posmodernisme di mana hukum-hukum kemutlakan dan otoritas disangkali, tampaknya Gereja akan segera memasuki masa di mana perceraian keluarga-keluarga Kristen menjadi berita sehari-hari. Perhatikan saja trend yang terjadi di Inggris, 50 % atau di Amerika 66,6 % perkawinan berarkhir dengan perceraian (http://www.e-psikologi.com/), padahal perkawinan mereka diberkati di Gereja. Sekalipun kasus di Indonesia belum setinggi itu, tetapi Indonesia telah menempati peringkat tertinggi untuk kawasan Asia Fasifik, dengan data 200.000 pasangan per tahun dan hal ini cenderung meningkat (http://www.suarasurabaya.net/). Jika hal ini -juga telah melanda Gereja di sini, Gereja akan benar-benar mengalami persoalan. Natal adalah kesempatan untuk membangun pondasi keluarga yang berpusat kepada misi Allah. Karena demikianlah keluarga Yusuf telah dipakai Allah untuk melaksanakan misi-Nya.
Mulai Kini
Tampaknya belum pernah ada orang yang menghitung berapa banyak dana, tenaga, perhatian yang dikeluarkan gereja atau keluarga Kristen setiap tahunnya untuk merayakan Natal. Jika cukup susah untuk menghitung mundur angka-angka rupiah dan perhatian yang telah dikeluarkan, mungkin tidak cukup sulit untuk menghitung maju angka-angka yang akan dikeluarkan untuk perayaan-perayaan Natal. Jika ternyata hasil hitungan tersebut hanya menghasilkan decak kagum karena banyaknya rupiah yang dikeluarkan disertai dengan pernyataan “wah...hebat juga kita” maka perayaan Natal hanya membangun kesan yang berarti menjadi monumen, bukan membagikan pesan dan menjadi momen. Jika yang terjadi adalah hal yang pertama, jangan kita berhenti, mari melangkah naik lebih tinggi menjadikan Natal sebagai momen untuk menyatakan kasih Allah dalam praktek hidup kita. (*Penulis adalah Staf Siswa Perkantas Jember).